BATUDAA PANTAI, GORONTALO – Jurusan Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) dengan fokus pada pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui hibah Pendanaan BIMA. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Langgula, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Puncak kegiatan utama dilaksanakan selama tiga hari, mencapai klimaks pada hari Selasa, 11 Agustus 2026. Sebanyak 30 peserta yang merupakan perwakilan dari kelompok UMKM "Kampung Cumi" Desa Langgula hadir untuk mengikuti rangkaian pelatihan intensif dan penyerahan bantuan alat.
Bertindak sebagai narasumber sekaligus pendamping adalah tim Pengabdian Pada Masyarakat dari Jurusan Pendidikan Masyarakat FIP UNG. Tim ini dipimpin langsung oleh Muhamad Ibrahim, S.Pd., M.Pd., yang selain sebagai ketua tim juga merupakan Ketua Jurusan Pendidikan Masyarakat di Fakultas Ilmu Pendidikan UNG. Hadirnya kepemimpinan tertinggi jurusan dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen serius universitas dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat pesisir Gorontalo.
"Kami hadir di Desa Langgula untuk memberikan dukungan konkret bagi peningkatan ekonomi keluarga nelayan melalui optimalisasi pengelolaan potensi lokal, khususnya cumi-cumi," jelas Muhamad Ibrahim. "Dengan adanya bantuan alat pengolahan ini, kami berharap 'Kampung Cumi' tidak hanya menjual bahan baku mentah, tetapi mampu memproduksi barang jadi dengan nilai tambah yang lebih tinggi."Inti kegiatan pada hari Selasa tersebut meliputi penyampaian materi pengenalan alat dan kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik langsung penggunaan berbagai alat pengolahan cumi modern yang merupakan bantuan dari Pendanaan BIMA. Alat-alat yang diserahterimakan dan dipraktikkan meliputi: 1. Mixer Skala Besar: Untuk efisiensi pembuatan bumbu adonan atau pengasinan massal.2. Mesin Pengering (Dehydrator): Untuk memastikan proses pengeringan cumi lebih cepat, hiegenis, dan tidak bergantung pada cuaca, sehingga kualitas produk cumi kering atau kerupuk cumi lebih terjaga. 3. Pemotong Daging Cumi: Untuk memotong cumi secara presisi dan seragam dalam jumlah banyak, mempercepat proses pra-pengolahan. 4. Berbagai Peralatan Pendukung Lainnya: Termasuk alat masak, penyimpanan, dan pengemasan.
Selama sesi praktik, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka belajar cara mengoperasikan alat dengan benar, memahami prinsip-prinsip kebersihan (higiene) pangan, serta teknik pengolahan untuk menghasilkan produk turunan cumi seperti kerupuk, abon cumi, dan sambal cumi kemasan yang berdaya saing pasar.
"Kami sangat bersyukur atas bantuan dan pelatihan ini. Dulu kami kesulitan mengolah cumi saat tangkapan melimpah, dan seringkali hanya menjual segar dengan harga murah. Dengan alat ini, kami bisa membuat produk baru dan menyimpannya lebih lama. Ini harapan baru untuk ekonomi kami di Kampung Cumi," ujar salah seorang peserta dari kelompok UMKM.
Melalui sinergi antara universitas dan masyarakat lewat Pendanaan BIMA, diharapkan UMKM Kampung Cumi Desa Langgula dapat mandiri, meningkatkan pendapatan, dan menjadi model inspiratif bagi desa-desa pesisir lainnya di Gorontalo. Rangkaian kegiatan selama tiga hari ini pun ditutup dengan sesi serah terima alat secara simbolis dari Ketua Tim PPM, Muhamad Ibrahim, kepada Kepala Desa Langgula.
Silaturahmi bersama istri Almarhum Prof.Abdul Rahmat, M.Pd ini untuk menjalin hubungan yang baik serta dirangkaikan dengan perpisahan/ramah tamah mahasiswa program PMM dilingkungan Jurusan Penmas FIP UNG.
APENMASI merupakan wadah para pakar, peneliti, ilmuwan dan praktisi pendidikan masyarakat yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta (PTN dan PTS) di seluruh tanah air.